About??..

Sebenarnya kalau ditanya mengapa saya masuk IPTP FAPET IPB jawaban yang paling tepat adalah ‘takdir’. Tepatnya ini adalah sebuah pilihan yang diberikan Allah untuk saya, termasuk juga dukungan dari orangtua saya. Akan tetapi, banyak sekali kejadian yang melatar belakangi “takdir’ ini. Kisah itu bermula ketika saya duduk dibangku 2 SMA di SMA PGRI 1 BEKASI.

Saya dan teman-teman mendapat tugas Bahasa Indonesia untuk membuat sebuah karya tulis sederhana. Setelah dilihat oleh guru ternyata karya tulis ini memiliki tema yang menarik untuk dikembangkan terutama untuk dilombakan dalam lomba karya tulis ilmiah tingkat Nasional. dengan segenap kemampuan akhirnya saya memberanikan diri melangkah sejauh itu dengan keterbatasan kemampuan dan termasuk generasi pelopor juga dalam perlombaan karya tulis ilmiah di sebuah SMA swasta yang kurang dipandang juga masyarakat setempat pada waktu itu. Tidak hanya saya beberapa rekan saya pun juga mengikuti berbagai perlombaan karya tulis ilmiah ini mulai tingkat Jabodetabek.

Pembuatan karya tulis ilmiah ini tentu perlu literature yang mendukung. Saya dan rekan-rekan mencari literatur di sebuah Institut yang tidak diragukan lagi kualitas di bidang Pertanian khususnya Peternakan, yaitu Institut Pertanian Bogor. Alhamdulillah saya diterima di IPB untuk membaca buku dan skripsi di perpustakaan Fapet. Tidak hanya itu kelanjutan kunjungan berikutnya kami juga meminjam Laboratorium INTP Fapet pengujian nutrisi pakan. Walawpun saya dan teman-teman tidak masuk sebagai finalis apalagi pemenang, tapi pengalaman luarbiasa ini merupakan proses pembelajaran yang sangat berharga bagi saya dan teman-teman.

Rasa cinta ingin melanjutkan kuliah di IPB ini awalnya hanya sekedar selintasan saja. Saat pendaftaran USMI dari IPB saya dan teman-teman mengajukan untuk mendaftar ke IPB. Dari tim ini hanya saya yang memilih Fapet sebagai pilihan saya. Saya juga sempat bingung kenapa tertarik dalam hal peternakan ini namun alasan utama saya masuk peternakan adalah saya tahu percis apa yang akan saya pelajari di ranah ini. Membaca departemen lain seperti hortikultura, lanskap, atau fakultas Mipa dengan departemen matematika, kimia, fisika biologi, dll saya sangat tidak tertarik. Selain itu orangtua saya menginginkan saya untuk menjadi seorang wiraswasta, terutama peluang peternakan dalam swasembada daging ternyata masih ada. Itu lah cita-cita saya, yaitu memberikan orang lain pekerjaan, membantu perekonomian umat, mewujudkan swasembada daging, dan yang sangat penting bagi saya yaitu membuat semua kalangan menengah kebawah juga bisa mengonsumsi daging,

Kenapa ranah pakan yang dulu saya geluti tidak saya ambil? kenapa saya lebih menyukai masuk departemen IPTP?.. Jawabannya adalah sangat sederhana yaitu karena saya suka produk olahan daging khususnya ’bakso’. Bakso adalah salah satu produk daging yang banyak dikonsumsi oleh golongan masyarakat menengah kebawah. Protein hewani ’bakso dalam hal ini’ bisa diambil manfaatnya, bisa dinikmati pula tidak hanya oleh kaum menengah keatas akan tetapi maenengah kebawah juga. Bakso inilah motivasi utama saya masuk departemen ini.

Selain bakso / ranah pengolahan daging, pengolahan susu pun saya sangat tertarik. Sebagai siswa yang kurang suka susu, namun kini banyak tau segala macam manfaat yang didapat melalui susu saya akhrinya mencoba untuk menyukai susu. Inilah yang mungkin perlu saya kembangkan “budaya minum susu” pada kalangan masyarakat kita yang pada umumnya kurang menyukai susu. Bahkan susu yang dikonsumsi rata-rata merupakan susu bubuk, bukan susu segar. Hal ini lah yang perlu kita luruskan susu segar itu lebih baik dari pada susu olahan, susu bubuk ataupun susu kental manis.

Sampai sekarang saya tidak pernah menyesal masuk departemen ini. Walaupun banyak pekerjaan dengan berkotor-kotoran saya sangat senang bisa berkotor-kotor penuh dengan sapi pedaging, sapi perah domba kambing, kuda, banyak pengetahuan dan pengalaman didalamnya.

Leave a Reply